Ekonomi Sirkular Shiddiqiyyah Tekan Defisit di Tengah Inflasi
Lampung — Di tengah tekanan inflasi dan kenaikan harga bahan pokok, Tarekat Shiddiqiyyah melalui jaringan lembaganya membangun sistem ketahanan pangan berbasis ekonomi sirkular. Gagasan ini disampaikan akun Threads terverifikasi @kosongsatuid dalam unggahan terbarunya sekitar 10 jam lalu.
Dalam unggahan tersebut tertulis, “EKONOMI SIRKULAR TEKAN DEFISIT.” Akun itu menjelaskan, “Di tengah inflasi dan kenaikan harga bahan pokok, Thoriqoh Shiddiqiyyah membangun lumbung pangan mandiri tanpa subsidi negara. Berbasis di Pesantren Majma’al Bahrain, mereka memutar usaha dan santunan dalam satu ekosistem ekonomi sirkular.”
Masih dalam unggahan yang sama, disebutkan bahwa motor penggerak gerakan tersebut adalah Dhilaal Berkat Rahmat Allah (DHIBRA), yang disebut sebagai lembaga filantropis tarekat. “Motor gerakan ini adalah Dhilaal Berkat Rahmat Allah (DHIBRA), lembaga filantropis tarekat,” demikian kutipan dalam unggahan itu.
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari unggahan tersebut, konsep ekonomi sirkular yang dimaksud adalah pola perputaran dana dan usaha dalam satu ekosistem internal. Model ini mengintegrasikan kegiatan ekonomi produktif dengan kegiatan sosial berupa santunan, sehingga dana yang berputar di lingkungan komunitas diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap subsidi eksternal.
Pesantren Majma’al Bahrain disebut sebagai basis pelaksanaan program. Melalui lumbung pangan mandiri, komunitas berupaya menyediakan kebutuhan pokok secara lebih terjangkau bagi anggota dan masyarakat sekitar. Langkah ini dinilai sebagai respons atas kondisi ekonomi nasional yang tengah menghadapi tantangan inflasi dan fluktuasi harga bahan pokok.
Dalam dokumentasi foto yang disertakan pada unggahan tersebut, tampak sejumlah kegiatan penyaluran bantuan dan pembagian paket kebutuhan kepada masyarakat. Beberapa gambar menunjukkan warga menerima kantong bantuan berwarna kuning dalam sebuah acara yang bernuansa keagamaan. Kegiatan itu menggambarkan keterlibatan unsur pengurus dan anggota komunitas dalam mendistribusikan bantuan secara langsung.
Ekonomi sirkular sendiri merupakan konsep yang menekankan efisiensi pemanfaatan sumber daya dengan prinsip keberlanjutan. Dalam konteks yang disampaikan akun tersebut, sistem ini diterapkan dengan memutar hasil usaha komunitas untuk mendukung program santunan dan ketahanan pangan. Dengan demikian, dana yang terkumpul tidak keluar dari ekosistem, melainkan kembali dimanfaatkan untuk kepentingan internal dan sosial.
Hingga berita ini diturunkan, belum terdapat keterangan resmi tambahan mengenai besaran dana yang dikelola, jumlah penerima manfaat, maupun cakupan distribusi program lumbung pangan tersebut. Namun, unggahan itu menegaskan bahwa gerakan dijalankan tanpa subsidi negara, sehingga bertumpu pada kemandirian ekonomi komunitas.
Pengamat ekonomi syariah menilai, inisiatif berbasis komunitas seperti ini dapat menjadi salah satu alternatif penguatan daya tahan masyarakat di tengah tekanan ekonomi. Meski demikian, transparansi pengelolaan dana dan akuntabilitas lembaga menjadi aspek penting agar program berjalan berkelanjutan dan mendapat kepercayaan publik.
Unggahan akun @kosongsatuid tersebut juga memantik respons warganet yang memberikan dukungan terhadap upaya kemandirian pangan berbasis pesantren. Sebagian menilai model ekonomi sirkular yang diterapkan berpotensi direplikasi di komunitas lain, terutama dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global.
Sebagai informasi, Threads merupakan platform media sosial berbasis percakapan yang terhubung dengan Instagram. Informasi yang beredar di platform tersebut tetap memerlukan verifikasi lebih lanjut apabila akan dijadikan rujukan kebijakan atau kajian akademik.
Redaksi akan terus berupaya menghubungi pihak terkait guna memperoleh konfirmasi tambahan mengenai implementasi, dampak, serta rencana pengembangan program ekonomi sirkular yang dimaksud. Penulis .(* PPh )